Mar 1, 2014

BBM broadcast on Gading Development

On Wednesday morning this week, I got a BBM broadcast from two colleagues. They're working at a state-owned brokerage and a private brokerage. In their BBM, they sent me a small part of the story of PT Gading Development Tbk (GAMA), which is now in the watch list of Indonesia Stock Exchange. The story is actually a small part of entire GAMA article that I have written at Bloomberg Businessweek Indonesia magazine this week edition. After copying the part of the GAMA article, he asked me, "is it true?" 
 As a journalist, the most uneasy thing to do is ensuring the information I got whether is true or not. I did not answer him directly. But I just said my source told me as it is. I did not put any cluttering information just to make the GAMA article look more interesting to my readers. However, during the deal process like a backdoor listing or M&A, sometimes the result is far from the initial plan. So it is the same with the information.
I also aksed him, where did you get the BBM broadcast? He said from the market. For the first time, I was surprised to read the broadcast because I found my name put in the end of the article as well. I am still thinking why the spreader put my name?
As you know, I did not propagate the small part of the GAMA article via BBM. However, I am also wondering that the spreader should read the whole article at Bloomberg Businessweek Indonesia magazine. Thanks to the spreader.
Concerning the question from my colleagues, I can assure that I use the information from my qualified sources. I did not get the GAMA information from an analyst at a securities house or a fund manager. The sources are the same person who divulged me with the acquisition of PT Bukit Makmur, coal mining contractor, by PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), and many other issues. Being a journalist sometimes is uneasy to gauge the quality and intention of sources. Usually, sources have their intentions to leak the information to journalist like me. However, it also depends on the way they leak the information. If sources easily leak the information, I should be aware on it, especially when the sources are working at brokerages. They work on the supply side. So, all information is sometimes inflated. Everything seems positive as they want the stock price goes up. Contrary, when I got the information from fund manages or buy side. They're always in the negative tone as they want to buy the stocks cheaper.
However, if I got a leakage information after I asked from my sources, I can be sure that the sources do not any intention on it. But, the sources must have a perfect track record as well. If he bullshits me once, no more trust. I also do not have any position on GAMA stocks, If the spreader got gain from the GAMA rally(Rp51 on Monday up to Rp75 on Wednesday)...he must be lucky.

12 comments:

IK NEN LIM said...

Pak Wisnu, mungkin Anda dapat menginvestigasi rencana penjualan anak perusahaan (PT Mitratama Perkasa) oleh PT Sumber Energi Andalan. Penjualan ini terlihat janggal mengingat anak perusahaan itu adalah nyawa bagi ITMA. Penjualan tersebut ibaratnya memotong leher sendiri. Jika pihak Tata Power perlu duit, mestinya mereka menjual ITMA saja, bukan menjual anak perusahaan itu.

wisnu wijaya said...

Pak Lim..terima kasih inputnya. Memang benar..tanpa mitratama...ITMA bakal kehilangan banyak meski yang dijual 30%. Saya juga heran...kenapa dulu mitratama dispin off sama BUMI dan diinject me ITMA. Skrg pembelinya mitratama mesti disetujui oleh keluarga Bakrie melalui long haul. Saya coba liatin ya pak. Krn biasanya banyaj SPV nanti...itu agak susah dilacak
.siapa dibelakangnya. Salam

IK NEN LIM said...

Sepanjang pengetahuan saya, Mitratama (MP) Perkasa itu dilepas kepada Tata Power karena pihak BUMI harus membayar denda kontrak teknikal atau semacamnya. Jadi daripada kena denda, maka 30% MP dilepas ke group Tata Power. Tata Power baru kemudian menyuntiknya ke ITMA. Nampaknya ITMA hanya dijadikan kendaraan sementara, pada akhirnya pelepasan MP ini nampaknya akan balik ke pihak yang melepas (atau yang ditunjuk). Pemegang sahamp publik ITMA yang terlanjur membeli saham ITMA setelah ITMA memperoleh MP tersebut tentu akan sangat dirugikan dengan aksi tersebut. Sebagai investor publik yang mempunyai suara yang sangat kecil tentunya tidak bisa berbuat apa2

IK NEN LIM said...

Pak Wisnu, kebetulan saya juga mempunyai satu lagi kasus.

PT Gowa Makassar Tourism Developpment (GMTD) pada kuartal ke-2 2013 telah mengakuisisi satu anak perusahaan (PT Tribuana Jaya
Raya) yang misterius dengan nilai akuisisi yang melebihi 50% dari ekuitasnya terakhir. Akuisisi ini tidak pernah diumumkan sebelumnya juga tentunya tidak melalui RUPS sama sekali (tentunya ini melanggar peraturan Bapepam LK No.IX.E.2 tentang transaksi material). Siapa di balik pemegang saham dari perusahaan tersebut sebelumnya juga tidak jelas. Akuisisi tersebut telah menyebabkan sebagian besar kas perusahaan beralih plus ditambah dengan hutang baru. Saya sudah melaporkan hal tersebut kepada BEI dan juga OJK, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Isi neraca dari perusahaan yang diakuisisi tersebut mayoritasnya adalah tanah dalam pengembangan.

wisnu wijaya said...

Ohhh...OJK seharusnya lebih gesit dan tegas seperti SEC di AS di amerika. Terima kasih pak infonya.

IK NEN LIM said...

Ya, Pak. Terima kasih juga. Nampaknya OJK gemetaran setelah mengetahui siapa di belakang GMTD? Transaksi ini dicurigai juga berbau benturan kepentingan. Jika memang mengandung benturan kepentingan, maka transaksi tersebut masih harus melalui persetujuan pemegang saham independen seperti diatur dalam peraturan Bapepam No.IX.E.1 tentang benturan kepentingan transaksi tertentu.

Sayangnya benturan kepentingan itu akan sulit dibuktikan.

Harusnya sih OJK punya peraturan baru untuk melindungi kepentingan investor publik dalam aksi korporasi seperti yang dilakukan oleh GMTD dan rencana yang akan dilakukan oleh ITMA.

Peraturan tentang transaksi material cuma mengatur mengenai 20-50% dan lebih dari 50%. Alangkah baiknya OJK dapat mengeluarkan peraturan baru mengenai transaksi material yang lebih dari 100% dari nilai ekuitas dengan persyaratan harus melalui persetujuan pemegang saham independen. Jadi investor publik tidak bisa dikadalin begitu saja.

Transaksi yang dilakukan oleh GMTD tersebut adalah 187% dari nilai ekuitas per 31 Desember 2012. Sedangkan yang akan dilakukan oleh ITMA 222% dari nilai ekuitas per 31 Des 2013.

Bisa dibayangkan bukan betapa besarnya transaksi tersebut mempengaruhi nilai investasi pemegang saham.

Anonymous said...

Kelompok Usaha Bakrie membutuhkan dana segar setidaknya mencari pinjaman sekitar US$ 500-600 juta (Rp 5-6 triliun), dan kemungkinan besar pinjaman akan digalang oleh Credit Suisse (CS). Dana tsb akan digunakan BNBR membeli secara tunai sisa saham BUMI yang dikuasai Bumi Plc sebanyak 18,9% dan diketahui Bumi Plc menguasai sekitar 29% saham BUMI. BNBR dan afiliasinya Long Haul Holdings Limited akan melepas kepemilikan 23,8% saham Bumi Plc. Caranya, menukar dengan 10,3 persen saham BUMI yang dimiliki Bumi Plc.

Bakrie & Brothers dan Long Haul Holding menjaminkan 47,6% saham Bumi Plc milik grup Bakrie untuk memperoleh pinjaman itu.
Source: http://investasi.kontan.co.id/news/bakrie-samin-tan-dan-rothschild

Pursuant to the Sale and Purchase Agreement (SPA) dated March 30, 2007, the Company and Subsidiaries, SHL, KCL and Forerunner have agreed to sell 30% of their ownership in KPC, Arutmin, ICRL, Indo Kaltim and Indo Kalsel (the “Coal Companies”) to Tata Power Company Ltd. (Tata Power). The total purchase price was USD1.1 billion.
source: http://infopub.sgx.com/FileOpen/BSI00392BSI025_BITS_N_1456_eBookproof_WQ_2.ashx?App=Prospectus&FileID=7677

13 maret 2007, BUMI Resources membuat kesepakatan kontak dengan pemilik LAMA, dimana ada opsi penjualan dengan harga US $ 1 dana Bumi mendapat selisih US$ 16.985.102 yang dicatatkan di BUMI.
source: hal 19 http://globaldocuments.morningstar.com/documentlibrary/document/292098f0006600d2.msdoc/original

Pada Maret 2010, Bumi juga menjual saham 69,83% Mitratama kepada PT Cahaya Pratama Lestari (CPL). Dari aksi itu, kepemilikan Bumi di Mitratama tersisa 30%, sebelum akhirnya dilego ke Sumber Energi Andalan pada 16 Agustus 2012. Valuasi Mitratama adalah US$ 26,7 juta dan dilego seharga US$ 1. Tapi sebagai gantinya, Bumi dapat pembatalanTechnical Assistance Contract dimana net present value-nya US$ 45 juta, yang berlaku sampai 2021.
Source: http://investasi.kontan.co.id/news/bumi-menuntaskan-penjualan-mitratama

Sebagai informasi penjualan 69,83% Mitratama kepada PT Cahaya Pratama Lestari (CPL) disebutkan US$ 190 juta.

Setelah itu BUMI melakukan hal yang sama dengan ITMA dan dijual dengan harga US$ 1 dengan alasan “ Technical Assistance Contract “ dan ITMA pun mendapatkan selisih US$ 18.843.515 yang dicatatkan.
Source: http://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/201402/caa95ae981_7f24dd1f90.pdf

Siapa yang “menyusut” dan siapa yang “digemukan” ?

Long Haul Holdings Limited and PT Bakrie & Brothers Tbk (together the ''Bakrie Group'')
source: http://www.investegate.co.uk/article.aspx?id=201307111447431439J

Long Haul Holdings Ltd adalah perusahaan yang didirikan berdasarkan dan tunduk kepada hukum Nevis,West Indies. Direktur Long Haul yakni Omar Luthfi Anwar. Dan saat ini menjadi menjadi Komisaris PT. Visi Media Asia Tbk. (VIVA)


PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), dimana pemegang saham mayoritas adalah Trust Energy Resources Pte. Ltd 94,61% dan merupakan anak usaha dari TATA POWER Co. Ltd. TATA memiliki penyertaan saham sejak Maret 2007 dengan BUMI. (terafiliasi)
Source : hal 40 http://infopub.sgx.com/FileOpen/BSI00392BSI025_BITS_N_1456_eBookproof_WQ_2.ashx?App=Prospectus&FileID=7677


PENGALIHAN ASET ?
Itulah salah satunya contoh mengapa lap. Keuangan BUMI, asetnya dan equtiy cenderung turun, bahkan negatif saat ini. Informasi yang terkadang kasat mata terlewati dan terasa janggal, karena akan berujung pada kerugian pemegang saham publik di saham BUMI tentunya.

Selain itu, indikasi yang patut dipertanyakan terkait pembatalan Technical Assistance Contract yang mungkin saja didasarkan hanya pada kontrak semata yang dibuat antar perusahaan dalam satu dimaksud. Akibatnya timbul nilai atau angka yang merugi di satu perusahaan yang menjual sehingga tercipta biaya (loss creating) atau hanya upaya memperkecil penghasilan kena pajak ? sekali lagi tentu diperlukan klarifikasi yang data yang sebenarnya. Kembali lagi disini sejauh mana otoritas kini punya nyali.

Anonymous said...

Next:

Ingin tau mengapa Aset ELTY dijual murah, dari Bakrie tol rencana 2 Trilyun menjadi 150 Milyar, atau bakrie nirmawa resort dari 1 trilyun menjadi 150 milyar ?

Atau, mau tahu kasus akuisisi Herald yang dimana data tidak terungkap, itu karena terjadi di Australia, di Indonesia tidak banyak dipublikasikan, namun sayangnya saat itu harus mengaitkan PT Antam sebagai kompetitor bidder terhadap Herald dimana sebelumnya sudah dimiliki Group Bumi. Dan berakhir Antam menyurutkan niatnya untuk akuisisi herald, setelah itu tidak lama Herald delisting. ?

Ingin tau aksi dibelakang layar rencana Capitalinc terkait rencana akuisisi ONWJ Blok melalui owen Holdings, dimana sebelumnya Energi Mega Persada juga menkeinginan untuk konsesi migas yang sama. ?

Insider Stories said...

Memang kalau bicara Bakrie, terutama soal BUMI...selalu berhadapan dengan SPV. Terima kasih atas infonya soal bumi, mitratama perkasa, cahaya pratama, ITMA, sampai owen.

Beberapa kali, saya juga menulis soal Mitratama perkasa dan BUMI di Bloomberg Businessweek Indonesia magazine. Tapi, banyak sekali SPV SPV yang terlibat di sini...hehehehe. OJK seharusnya bisa ya melacak siapa di bali special purpose vehicle (SPV) itu. Kalau OJK tidak bisa melacak,.,sulit terungkap. Kadang saya berpikir mencari penyandang dana (funding) untuk melakukan investigasi SPV2 itu ke British Virgin Islands atau Cayman Islands. Adakah yang mau menjadi penyandang dana? hehehehe

cranes for sale said...

Awesome....

Anonymous said...

Kalau sekarang infonya Mitratama perkasa dijual ke BIPI oleh Long Haul. Bagaimana tuh pak ?

Anonymous said...

Ingin tau aksi dibelakang layar rencana Capitalinc terkait rencana akuisisi ONWJ Blok melalui owen Holdings, dimana sebelumnya Energi Mega Persada juga menkeinginan untuk konsesi migas yang sama. ?

klo boleh dishare pak tentang MTFN, kebetulan saya minat saham ini krn ada Recapital or Sandiaga Uno..cuma masih curiga apakah ada bakrienya ?
trims